Membuat Aplikasi Web Interaktif Tanpa Flash

Di konferensi WWDC dua minggu yang lalu, Apple mengumumkan MobileMe yang dibuat dengan pondasi SproutCore, sebuah framework aplikasi JavaScript yang dipromosikan Apple sebagai framework terbaik untuk menciptakan aplikasi web interaktif yang mampu memberikan pengalaman pemakaian seperti layaknya di desktop kepada pengunjung.

Para pengembang Sproutit pada awalnya membuat SproutCore, sebuah framework lengkap untuk membuat aplikasi internet interaktif karena ingin menulis ulang aplikasi Mailroom milik mereka untuk dapat dioperasikan secara penuh di dalam browser. Dan karena SproutCore dirilis dengan lisensi open source (lisensi MIT), semua orang (termasuk Apple) dapat menggunakan framework tersebut untuk membangun aplikasi web interaktif yang dapat dioperasikan di semua browser besar.
Screenshot SproutCore

Keuntungan terbesar dari menggunakan SproutCore adalah kemampuannya untuk membuat aplikasi interaktif tanpa perlu menggunakan plugin lain seperti Flash yang perlu diunduh secara terpisah. Walaupun Adobe dan Microsoft (Silverlight) berusaha untuk mendorong teknologi mereka sendiri sebagai platform untuk membangun aplikasi web interaktif, SproutCore dapat memberikan hal ini hanya dengan menggunakan JavaScript. Artinya, aplikasi ini juga akan dapat dioperasikan oleh alat-alat portabel seperti ponsel pintar yang tidak dapat menggunakan teknologi seperti Flash dalam browser mereka.

Charles Jolley, pendiri Sproutit mengatakan bahwa “web dibangun berdasarkan HTML, CSS dan JavaScript. SproutCore ditulis dalam JavaScript dan dapat digunakan dengan berbagai teknologi server seperti Ruby, PHP, Java dan lain-lain,” ideal untuk membangun sebuah aplikasi web berdasarkan standar terbuka. (Ars)

Untuk Anda para pengembang web, jangan salah memilih teknologi yang Anda gunakan untuk membuat aplikasi Anda berikutnyaūüėČ

PING DARI:udaramaya.com

Bagaimana Mengontrol Microsoft Office Anda dengan Suara

Mengambil tips dari Adam baru-baru ini mengenai ‘bagaimana mengendalikan Vista PC anda dengan Speech Recognition Macros‘, blog Productivity Portfolio membahas lebih jauh mengenai fitur ‘speech recognition‘ yang terdapat atau dibuat dalam Microsoft Office sejak 2002 lalu. Dengan sebuah microphone dan sedikit latihan, anda akan dapat mendikte, memberikan perintah, dan mendengar kembali isi dari file anda dibacakan ulang. Bagi mereka yang memiliki luka tangan dan lengan atau siapapun yang ingin lebih nyaman dengan perintah suara, ini adalah tips yang sangat membantu.

Gunakan Suara Anda pada Microsoft Word

Sumber artikel, klik di sini

Dia: Alternatif Microsoft Visio

Dia adalah sebuah program GTK (Graphical User Interface Toolkit) untuk membuat diagram yang dapat dipakai di Linux maupun Windows, dirilis di bawah lisensi GPL (General Public License).

Menurut pengembang software ini, GNOME, Dia diinspirasikan oleh aplikasi komersil buatan Microsoft yaitu ‘Visio’. Dan seperti halnya Visio, dengan Dia Anda dapat membuat berbagai diagram mulai dari yang umum hingga yang rumit seperti diagram-diagram ERD (Entity Relationship Diagrams), UML (Unified Modelling Language), flowcharts, jaringan, dan sebagainya.

Dimungkinkan pula untuk menambah obyek baru ke dalam Dia dengan membuat file XML baru atau menggunakan subset dari SVG untuk menggambar bentuk tersebut.

Dia object sheet editor

Dia dapat membuka dan menyimpan diagram dalam format XML dengan extension .dia, tapi jika Anda ingin menyimpannya dalam format yang lain, Anda juga memiliki banyak format yang dapat Anda pilih seperti:

  • EPS
  • SVG
  • XFIG
  • WMF
  • PDF
  • PNG
  • ICO
  • JPEG
  • Dan lain-lain

Bagi teman-teman yang masih menggunakan Microsoft Visio bajakan^^, segeralah beralih ke solusi open source ini, sudah saya coba sendiri dan pemakaiannya sangat mudah dan tidak ribet, tidak ada error saat membuat diagram, dan yang pasti legal. Klik di sini untuk mengunduh Dia.(Via Lifehacker)

Ini contoh diagram yang digambar menggunakan Dia:

Dia screenshot

Dia Screenshot

Hulu Jauh Lebih Menguntungkan dari YouTube

Mark Cuban, seorang kritikus YouTube menulis di blog-nya bahwa ia memprediksi Hulu (situs yang menayangkan video-video berlisensi berkualitas tinggi seperti film) akan memiliki pendapatan yang lebih besar dari YouTube tahun depan. Rahasia keberhasilan Hulu, menurut Cuban adalah kemampuannya untuk meng-uangkan 100% konten yang dimilikinya, plus mereka juga mengambil keuntungan dari popularitas YouTube.

Hulu tidak menyajikan lebih banyak video dibandingkan YouTube, bahkan pengunjung mereka jauh lebih sedikit dibandingkan youTube. Akan tetapi, mereka menggunakan YouTube untuk memasarkan konten mereka (seri TV, film dan lain-lain) dengan menayangkan klip pendek video mereka di YouTube yang memiliki link kembali ke video penuh di Hulu. Dan karena Hulu tidak perlu mengeluarkan sepeser pun untuk meng-upload video, Hulu dapat terus mempromosikan dirinya dengan YouTube sebagai “sponsor” bandwidth dan infrastruktur.

Selain itu, Hulu memiliki sebuah keunggulan besar, yaitu mereka berhak menjual iklan di setiap video yang ada di situsnya, sedangkan YouTube bahkan tidak tahu isi dari 99% video yang mereka tayangkan.

Alasannya? Hulu adalah sebuah situs media yang khusus menayangkan video dengan iklan, dengan persetujuan klien. YouTube adalah sebuah penyedia layanan hosting, dan menurut Digital Millenium Copyright Act, mereka tidak berhak mengetahui video apa yang di-upload oleh pemakainya dan meng-uangkan video-video tersebut. Mereka hanya boleh menampilkan iklan di video-video di mana mereka telah bekerja sama dengan pemilik konten, hanya sejumlah kecil dari total video yang ditampilkan YouTube. (Via TGDaily)

Teknologi Terbaru Radar Terrasarx Mampu Atasi Awan

Jakarta (ANTARA News) – TerraSarX, teknologi terbaru untuk pemetaan dengan radar asal Jerman, yang dinyatakan mampu mengatasi awan, ditawarkan untuk diujicobakan di atas udara Indonesia.

“Sebagai imbalan, mereka menawarkan penyediaan data spasial yang dibutuhkan berbagai lembaga di Indonesia dengan sistem itu,” kata Peneliti Geomatika Badan Koordinasi Survei dan Pemetaan Nasional Dr Ade Komara Mulyana di sela Seminar Teknologi Radar Antariksa di Jakarta, Rabu.

Misalnya permintaan data spasial semburan lumpur Sidoarjo, data spasial kondisi terbaru Merapi, hingga data spasial banjir Jakarta awal Februari lalu, atau permintaan data spasial dari IPB dan institusi penelitian lain yang akan diberikan secara gratis, ujarnya.

Indonesia sudah lama menjadi tempat uji terlengkap berbagai sistem pemetaan radar yang pernah dikembangkan di dunia karena lokasinya di khatulistiwa serta ketertutupan awannya yang tinggi sehingga sesuai untuk uji radar yang ditargetkan dapat mengatasi awan.

Karena itu sudah saatnya pelaku pemetaan di Indonesia tak sekedar menjadi objek, tetapi juga sebagai subjek pemetaan dengan radar dan menyambut ujicoba yang ada sebagai peluang untuk membantu Indonesia dalam menyediakan data spasial, ujarnya.

Sebelumnya pernah dicoba sistem satelit Radarsat, ERS, JERS, Envisat, SRTM maupun sistem Airborne-Ifsar.

Sementara itu, Chief Operating Infoterra Nikolaus Faller mengatakan, sistem terbaru pemetaan bumi dengan radar dari TerraSarX bisa menjadi pilihan dalam pemetaan geospasial pada masa datang karena selain mampu mengatasi masalah ketertutupan awan juga berbiaya rendah.

“TerraSarX mampu melakukan pemetaan bumi tanpa terganggu awan dengan biaya hanya 5 dolar per Km2,” katanya.

Diakui Ade, biaya pemotretan udara dengan airborne, teknologi pemetaan yang mampu mengatasi awan, mencapai 40-50 dolar per Km2, sedangkan teknologi satelit Ikonos yang masih bermasalah dengan awan berbiaya 37 dolar AS per Km2.

Ade mengatakan, Indonesia lebih memilih bekerjasama atau menyewa radar, ketimbang memilikinya untuk pemetaan, karena biaya investasi dalam teknologi radar pemetaan serta biaya operasional radar sangat besar dan tidak seimbang dengan hasil yang didapat.

“Tubsat (satelit mikro milik LAPAN yang baru diluncurkan setahun lalu – red) sebenarnya sudah menghasilkan foto video `live` wilayah nusantara, namun belum diterjemahkan menjadi hasil pemetaan,” katanya. (*)

Laptop dengan Prosesor Cell PS3

Tahun ini Toshiba meluncurkan jajaran laptop terbarunya, salah satunya adalah Toshiba Qosmio G55, yang istimewa dari laptop ini adalah prosesornya yang menggunakan teknologi quad core, tapi anehnya bukan produk Intel maupun AMD. Lalu siapa produsen prosesor tersebut?

Masih ingat dengan PS3 yang menggunakan Cell Broadband Engine hasil proyek bersama antara Sony, IBM, dan Toshiba? Prosesor empat inti yang ada di G55 bernama “Quad-Core HD Processor” yang dikembangkan berdasarkan SpursEngine yang merupakan derivatif dari Cell Broadband Engine. Saat ini IBM juga sudah menggunakan prosesor Cell pada jajaran servernya.

SpursEngine sendiri adalah sebuah prosesor tambahan yang dapat mengakselerasikan berbagai pekerjaan multimedia. Qosmio G55 menggunakan Intel Centrino 2 (Montevina) sebagai CPU utama dan Nvidia GeForce 9600M GT sebagai GPU utama.

Keempat inti prosesor di dalam chip tersebut memiliki clock speed 1.5GHz, yang menggunakan daya relatif rendah sebesar 10 – 20 watt. Prosesor Intel umumnya mengkonsumsi sekitar 35 watt.

Menurut pihak Toshiba, SpursEngine mampu melakukan lebih dari 48 GFlop (miliaran opreasi floating point per detik) atau 12 GFlops per inti prosesor dengan 256KB memori internal. Prosesor ini mampu melakukan encoding dan decoding video HD (High-Definition) seperti MPEG-2 dan streaming H 264 (MPEG-4) dengan cepat.

Toshiba mengatakan bahwa SpursEngine dapat melakukan apa yang ditawarkan GPU (Graphics Processing Unit) tingkat tinggi dari NVIDIA atau ATI: transcoding acceleration. Proses konversi film berukuran 1GB dengan bantuan SpursEngine dapat dilakukan dalam waktu 10 menit saja, sedangkan biasanya bisa sampai berjam-jam.

Fitur lain yang ada di laptop tersebut dengan bantuan prosesor SE, Anda dapat menghentikan, memajukan atau memundurkan film, lagu ataupun presentasi PowerPoint ‘hanya dengan gerakan tangan,’ tanpa perlu menggerakkan tetikus atau keyboard. Fitur ini oleh Toshiba dinamakan gesture control yang menggunakan webcam untuk menangkap gerakan pemakai dari jarak 1 hingga 3 meter.

Penggunaan prosesor Cell akan terus digalakkan untuk menjadi prosesor masa depan untuk produk-produk Toshiba, tidak hanya pada laptop atau komputer saja, tapi juga untuk TV.

Bersamaan dengan G55, Toshiba juga meluncurkan Qosmio X305 dan Qosmio F55. Ketiga laptop ini menargetkan segmen yang sama, yaitu para antusias gaming.

Toshiba Qosmio F55
Toshiba Qosmio F55 1
Toshiba Qosmio F55 2
Toshiba Qosmio F55 3
Toshiba Qosmio F55 4Sumber: Cnet dan Cnet.

Skype 4.0 Beta Dirilis, Fokus ke Video

Sebentar lagi Skype akan mendapat sebuah upgrade besar yang menurut Josh Silverman merupakan “rilis baru terbesar dalam sejarah Skype.” Skype adalah sebuah aplikasi chat yang membedakan dirinya dari chat client lain seperti Yahoo atau Windows Live Messenger dengan menitik beratkan terhadap percakapan audio (VoIP). Blog Skype yang baru saja mengumumkan versi beta Skype 4.0 mengatakan bahwa aplikasi ini mendapat desain baru yang difokuskan untuk percakapan video.
Screenshot Skype 4.0 betaLogo Skype

Silverman, presiden Skype mengatakan bahwa “UI (user interface) Skype yang lama dibuat untuk percakapan audio,” dan walaupun Skype versi sebelumnya sudah menyediakan fitur percakapan video, Skype 4.0 akan merevolusi fitur ini dengan menambahkan fitur-fitur video baru seperti:

  • Tampilan baru yang bertujuan untuk mendukung manajemen percakapan audio/video yang lebih baik
  • Ukuran jendela yang lebih besar, mendukung mode fullscreen
  • Tombol “Video call” untuk memulai percakapan video dengan mudah
  • Kualitas video yang lebih baik dengan fitur picture in picture
  • Dukungan perangkat keras yang lebih baik
  • Import contact dari Outlook, Hotmail dan Yahoo

Anda dapat melihat demonstrasinya di video berikut atau mengunduh Skype 4.0 beta dari sini: